Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Thursday, 27 March 2008
Peringatan
Maulid Nabi SAW
Ketika kita membaca kalimat diatas
maka didalam hati kita sudah tersirat bahwa kalimat ini akan langsung membuat
alergi bagi sebagian kelompok muslimin, saya akan meringkas penjelasannya
secara 'Aqlan wa syar'an, (logika dan syariah). Sifat manusia cenderung
merayakan sesuatu yang membuat mereka gembira, apakah keberhasilan, kemenangan,
kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan,
berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya,
demikian adat istiadat diseluruh dunia. Sampai disini saya jelaskan dulu
bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw.
Allah merayakan hari kelahiran para
Nabi Nya
· Firman Allah : "(Isa berkata
dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari
aku wafat, dan hari aku dibangkitkan" (QS Maryam 33)
· Firman Allah : "Salam Sejahtera
dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia
dibangkitkan" (QS Maryam 15)
· Rasul saw lahir dengan keadaan sudah
dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177)
· Berkata Utsman bin Abil Ash
Asstaqafiy dari ibunya yang menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw,
ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat
bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia
melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat
terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
· Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi
beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)
· Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan
Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yang terang
benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul
Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
· Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh
singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra,
dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yang 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul
Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
Kenapa kejadian kejadian ini
dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul menandakan
kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah
saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada
kelahiran Nabi nabi sebelumnya.
Rasulullah saw memuliakan hari
kelahiran beliau saw
Ketika beliau saw ditanya mengenai
puasa di hari senin, beliau saw menjawab : "Itu adalah hari kelahiranku,
dan hari aku dibangkitkan" (Shahih Muslim hadits no.1162). dari hadits ini
sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dg
puasa. Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda
dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari
kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak menjawab misalnya : "oh puasa
hari senin itu mulia dan boleh boleh saja..", namun beliau bersabda :
"itu adalah hari kelahiranku", menunjukkan bagi beliau saw hari
kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya, contoh mudah
misalnya zeyd bertanya pada amir : "bagaimana kalau kita berangkat umroh
pada 1 Januari?", maka amir menjawab : "oh itu hari kelahiran
saya". Nah.. bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari
adalah hari yang berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?, dan amir menyatakan
dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini
termasuk orang yang perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dg
hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari
adalah hari kelahirannya, dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk
merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban
beliau saw yang lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana contoh
diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu adalah hari
kelahirannya, maka mereka yang berpendapat bahwa boleh merayakan maulid hanya
dg puasa saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman terhadap ilmu bahasa.
Orang itu bertanya tentang puasa
senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw menjawab : hari itu hari
kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada
pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu. Maka jelaslah
sudah bahwa Nabi saw termasuk yang perhatian pada hari kelahiran beliau saw,
karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.
Sahabat memuliakan hari kelahiran
Nabi saw
Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra :
"Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah.." maka Rasul saw menjawab:
"silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga", maka Abbas ra
memuji dg syair yang panjang, diantaranya : "… dan engkau (wahai nabi saw)
saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan
langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan
dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur'an) kami terus mendalaminya" (Mustadrak
'ala shahihain hadits no.5417)
Kasih sayang Allah atas kafir yang
gembira atas kelahiran Nabi saw
Diriwayatkan bahwa Abbas bin
Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya :
"bagaimana keadaanmu?", abu lahab menjawab : "di neraka, Cuma
diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah
karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw" (Shahih Bukhari hadits no.4813,
Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi'bul iman no.281, fathul baari
Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam
barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya
menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena
telah gembira dg kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.
Walaupun mimpi tak dapat dijadikan
hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah
sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas
kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan
Nabi saw maka Imam imam diatas yang meriwayatkan hal itu tentunya menjadi
hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam dan
mereka tak mengingkarinya.
Rasulullah saw memperbolehkan Syair
pujian di masjid
Hassan bin Tsabit ra membaca syair
di Masjid Nabawiy yang lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata :
"aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yang lebih mulia
dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu
Hurairah ra dan berkata : "bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku
dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra
berkata : "betul" (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim
hadits no.2485)
Ini menunjukkan bahwa pembacaan
Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana beberapa hadits shahih yang
menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa yang dilarang adalah
syair syair yang membawa pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair yang
memuji Allah dan Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan
dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih
banyak riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar
khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan
syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058, sunan Attirmidzi hadits
no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada beberapa sahabat yang mengecam Hassan
bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : "Jangan kalian caci hassan, sungguh
ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw"(Musnad Abu Ya'la Juz 8 hal
337).
Pendapat Para Imam dan Muhaddits
atas perayaan Maulid
1.
Berkata
Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : "hari ini hari ditenggelamkannya Fir'aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : "kita lebih berhak atas Musa as dari kalian", maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Al-Qur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt "SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA" (QS Al Imran 164)
Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : "hari ini hari ditenggelamkannya Fir'aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : "kita lebih berhak atas Musa as dari kalian", maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Al-Qur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt "SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA" (QS Al Imran 164)
2.
Pendapat
Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil'aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : "Husnulmaqshad fii 'amalilmaulid".
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil'aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : "Husnulmaqshad fii 'amalilmaulid".
3.
Pendapat
Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : Merupakan Bid'ah
hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap
tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan,
menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan
membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg
kelahiran Nabi saw.
4.
Pendapat
Imamul Qurra' Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya 'Urif
bitta'rif Maulidissyariif : Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam
mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : "di neraka, tapi aku
mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku
Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah
menyusuinya (saw)" (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Al-Qur’an
turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan
kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yang gembira
atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang
Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan
sebab anugerah Nya.
5.
Pendapat
Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya
Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy : Serupa dg ucapan Imamul Qurra' Alhafidh
Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab
6.
Pendapat
Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata
"tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi
dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh
pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam sedekah dan
memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang
sangat besar".
7.
Imam
Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar
berkata : "ketahuilah salah satu bid'ah hasanah adalah pelaksanaan maulid
di bulan kelahiran nabi saw"
8.
Imam
Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah dengan karangan maulidnya yang
terkenal "al aruus" juga beliau berkata tentang pembacaan maulid,
"Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg
tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta
merayakannya".
9.
Imam
Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah
juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: "Maka Allah akan
menurukan rahmat Nya kpd orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai
hari besar".
10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab
Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi dg karangan
maulidnya yang bernama "Attanwir fi maulid basyir an nadzir".
11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits
Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dg maulidnya "urfu at ta'rif bi
maulid assyarif"
12. Imam al Hafidh Ibn Katsir yang
karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : "maulid ibn katsir".
13. Imam Al Hafidh Al 'Iraqy dg
maulidnya "maurid al hana fi maulid assana".
14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
telah mengarang beberapa maulid : Jaami' al astar fi maulid nabi al mukhtar 3
jilid, Al lafad arra'iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al
hadi.
15. Imam assyakhawiy dg maulidnya al fajr
al ulwi fi maulid an nabawi
16. Al allamah al faqih Ali zainal
Abidin As syamhudi dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah
17. Al Imam Hafidz Wajihuddin
Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yang terkenal dg ibn diba' dg
maulidnya addiba'i
18. Imam ibn hajar al haitsami dg
maulidnya itmam anni'mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam
19. Imam Ibrahim Baajuri mengarang
hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar
20. Al Allamah Ali Al Qari' dg maulidnya
maurud arrowi fi maulid nabawi
21. Al Allamah al Muhaddits Ja'far bin
Hasan Al barzanji dg maulidnya yang terkenal maulid barzanji.
22. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin
Jakfar al Kattani dg maulid Al yaman wal is'ad bi maulid khair al ibad.
23. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail
An Nabhaniy dg maulid jawahir an nadmu al badi' fi maulid as syafi'
24. Imam Ibrahim Assyaibaniy dg maulid
al maulid mustofa adnaani
25. Imam Abdulghaniy Annanablisiy dg
maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi"
26. Syihabuddin Al Halwani dg maulid
fath al latif fi syarah maulid assyarif
27. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati dg
maulid Al Kaukab al azhar alal 'iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar.
28. Asyeikh Ali Attanthowiy dg maulid
nur as shofa' fi maulid al mustofa
29. As syeikh Muhammad Al maghribi dg
maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.
Tiada satupun para Muhadditsin dan
para Imam yang menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan
pada Imam dan Muhadditsin yang menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh
kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong
ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yang jelas jelas meniru kelicikan para
misionaris dalam menghancurkan Islam.
Berdiri saat Mahal Qiyam dalam
pembacaan Maulid
Mengenai berdiri saat maulid ini,
merupakan Qiyas dari menyambut kedatangan Islam dan Syariah Rasul saw, dan
menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita,
hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yang dianjurkan oleh Rasul saw
adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa'ad bin Mu'adz ra datang maka
Rasul saw berkata kepada kaum anshar : "Berdirilah untuk tuan kalian"
(shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula
berdirinya Thalhah ra untuk Ka'b bin Malik ra.
Memang mengenai berdiri penghormatan
ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana yang dijelaskan bahwa berkata Imam
Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid
untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yang adil dan yang
semacamnya merupakan hal yang baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yang
dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yang duduk, dan Imam Nawawi yang
berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw
berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang, namun adapula
pendapat lain yang melarang berdiri untuk penghormatan. (Rujuk Fathul Baari
Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)
Namun dari semua pendapat itu,
tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca maulid itu tak ada hubungan apa
apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam
pembacaan maulid itu, lepas dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan
maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yang
tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir, semua ucapan diatas adalah perbedaan
pendapat mengenai berdiri penghormatan yang Rasul saw pernah melarang agar
sahabat tak berdiri untuk memuliakan beliau saw.
Jauh berbeda bila kita yang berdiri
penghormatan mengingat jasa beliau saw, tak terikat dengan beliau hadir atau
tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk semangat kita menyambut risalah Nabi
saw, dan penghormatan kita kepada kedatangan Islam, dan kerinduan kita pada
nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita
tak melihat beliau saw.
Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh
Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya
bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam
perkumpulan yang padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara
syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh
Imam imam yang hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yang luhur dan
cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan, dan berkata Imam Ibn Hajar
Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid'ah hasanah sudah menjadi kesepakatan para
imam bahwa itu merupakan hal yang sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim
no.1017 yang terncantum pd Bab Bid'ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan
bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah
satu Bid'ah hasanah, Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai
abad ketiga hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan
perayaan agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yang
mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)
Pada hakekatnya, perayaan maulid ini
bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus
mendengarkan ceramah islami yang diselingi bershalawat dan salam pada Rasul
saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yang sudah diperbolehkan oleh
Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua
maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yang dalam ghaflah,
maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yang mengingkarinya karena jelas
jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam
ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin aqlan wa syar'an (secara logika
dan hukum syariah), karena hal ini merupakan hal yang mustahab (yang dicintai),
sebagaiman kaidah syariah bahwa "Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa
wajib", semua yang menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya
wajib. contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam
shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat
kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali
harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya berubah menjadi wajib, karena
perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yang wajib.
Contoh lain misalnya sunnah
menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan
bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah
bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju
di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yang
hukumnya sunnah.
Maka perayaan Maulid Nabi saw
diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah merupakan hal yang wajib
pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dg Nabinya
saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah
beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi
saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara Tablig
dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta silaturahmi.
Sebagaimana penulisan Al-Qur’an yang
merupakan hal yang tak perlu dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di
masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yang membutuhkan penjelasan Al-Qur’an,
dan menjadi wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yang wafat, karena
ditakutkan sirnanya Al-Qur’an dari ummat, walaupun Allah telah menjelaskan
bahwa Al-Qur’an telah dijaga oleh Allah.
Hal semacam in telah difahami dan
dijelaskan oleh para khulafa'urrasyidin, sahabat radhiyallahu'anhum, Imam dan
Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yang awam, namun
hanya sebagian saudara saudara kita muslimin yang masih bersikeras untuk
menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, amiin.
Walillahittaufiq
Terakhir Diperbaharui ( Sunday, 30
March 2008 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar