Halaman

Tampilkan postingan dengan label Mukjizat Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mukjizat Al-Quran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Maret 2012

KEKUATAN AL-QUR'AN


KEKUATAN AL-QUR'AN


SETIAP Setiap hari kita selalu dikepung oleh beragam berita, baik TV, internet, radio, majalah bahkan koran. Umumnya kita jadi ‘tidak karuan’ setelah membaca berita-berita itu. Pada saat yang sama berita-berita yang kita baca setiap harinya juga tidak berdampak signifikan terhadap produktivitas kita sehari-hari. Lebih-lebih terhadap peningkatan kualitas iman.

Apalagi berita yang dimuat media massa belakangan ini --baik dalam mapupun luar negeri-- cenderung kurang obyektif, khususnya ketika mengabarkan hal-ihwal umat Islam.  Belum lagi program hiburan yang cenderung kurang etis.
Karena itu, adagium yang mengatakan bahwa kesalahan yang ditampilkan secara terus-menerus perlahan akan dianggap benar. Sedangkan kebenaran yang tidak pernah ditampilkan sudah pasti akan asing dan karena itu dianggap tidak benar, hari ini, bukanlah pepesan kosong.

Permainan opini di media berhasil menggiring manusia pada satu pemahaman dan gerakan yang seringkali justru tidak memberikan manfaat apa-apa bagi kehidupan kita, baik sebagai warga negara, bangsa maupun sebagai seorang Muslim. Yang ada justru makin menambah rasa gundah.

Tujuan utama diciptakannya manusia tiada lain hanyalah beribadah kepada Allah SWT. Beribadah kepada Allah SWT tidak bisa dilakukan kecuali orang yang berilmu. Tetapi ilmu yang tidak menguatkan iman juga tidak akan mendorong seorang manusia untuk benar-benar beribadah kepada-Nya.

Allah SWT menjelaskan dengan gamblang bahwa pertama dan utama yang harus diupayakan oleh setiap Muslim adalah senantiasa menumbuhkan keimanan dan menjaga kualitasnya. Sebab iman itulah pangkal keselamatan umat manusia. Dengan iman orang rajin menuntut ilmu, dengan iman orang berani berjihad, dengan iman orang bisa menjadi pemimpin adil, bijaksana, dan pemberani.


Tetapi, hal inilah yang ditinggalkan oleh sebagian besar umat Islam di negeri ini. Faktanya sederhana, hampir dapat dipastikan bahwa seluruh anggota DPR setiap harinya selalu membaca koran. Tidak cukup koran mereka lihat internet. Tetapi bisa dipastikan, sangat sedikit di antara mereka yang setiap harinya membaca al-Qur’an.

Adakah kira-kira anggota dewan kita menjadikan al-Quran sebagai acuan menyelesaikan masalah dan persoalan, selain data penunjang bersumber dari media? Boleh jadi masih belum.

Semua Nabi dan Rasul Allah menangan atas musuh-musuhnya bukan dengan persenjataan, kekuatan dana, dan banyaknya pasukan. Tetapi karena kualitas keimanannya. Sebab hanya dengan iman seorang Muslim akan mampu menjadi insan yang muttaqin.

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. 3: 123).

Bagaimana Allah menolong pasukan Muslim yang kecil dan tak bersenjata lengkap itu?

قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُم مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ وَاللّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَن يَشَاءُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لَّأُوْلِي الأَبْصَارِ

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur) Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (QS. 3 (Ali Imron): 13).

Logika manusia biasa (lebih-lebih yang tidak beriman) pasti mengatakan bahwa yang banyak jumlahnya, lengkap senjatanya pasti akan menang. Tetapi faktanya tidak. Perang Hunain membuktikan hal tersebut. Bahwa ternyata banyaknya pasukan, lengkapnya senjata sama sekali tidak menjamin sebuah kemenangan bisa diraih.

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. 9 (Attaubah): 25).

Tak sedikit ada penyakit dalam diri umat hari ini. DI mana mereka lebih suka berbangga-bangga jamaah dan jumlah. Meski sebenarnya, jumlah yang mereka bangga-banggakan itu tak pernah berarti bagi kemenangan Islam.
Karenanya, keimanan atau dengan bahasa lain, kualitas tauhid dan iman umat Islam, itu jauh lebih baik, dibanding jumlah yang banyak namun kualitasnya hanya seperti buih di lautan.

Jadi beriman itu penting dan mengimani apa yang diturunkan kepada rasulullah saw adalah perkara mendasar yang harus dijaga kualitasnya. Jika demikian mengapa kita tidak berusaha untuk selalu akrab dengan al-Qur’an?

Sabtu, 24 Maret 2012

Kebenaran Al-Quran: Pendapat Ilmuwan Eropa seputar Penyembelihan Hewan cara Islami

Kebenaran Al-Quran: Pendapat Ilmuwan Eropa seputar Penyembelihan Hewan cara Islami

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِىَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ {43} وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْئَلُونَ {44} "

”Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya al-Qur'an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.” (QS. Az-Zukhruf: 43-44)
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk membaca Bismillah sebelum menyembelih binatang sembelihan, Dia berfirman dalam surat al-An’am:


فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ إِن كُنتُم بِئَايَاتِهِ مُؤْمِنِينَ {118}

”Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah (ketika menyembelihnya), jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya).”(QS Al-An’am: 118).
Dia Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:



وَلاَتَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ {121}

” Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS Al-An’am: 121).

Kita sebagai seorang muslim berpegang teguh dan konsisten dengan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah ’Azza wa Jalla, dan kita mengambilnya dengan penuh keyakinan bahwa hal itu adalah baik untuk kita, sekalipun kemampuan kita terkadang atau sering tidak mampu mengetahu makna di balik perintah atau arahan Ilahi, atau terkadang kita tidak mengetahui tafsir ilmiah yang menjadi sandaran perintah ini, hingga di masa berkutnya kita bisa mengetahui hakekai hal tersebut dengan berkembangnya ilmu pengetahuan.


Persaksian dan pendapat ilmuwan Eropa seputar penyembelihan hewan cara Islami.

Statemen (Pernyataan) dokter bedah Lord Horder:

"Hewan kehilangan kesadaran seketika itu juga (ketiak penyembelihan), sulit untuk membayangkan bahwa ada cara lain untuk merealisasikan kematian lebih cepat dan tanpa rasa sakit dibandingkan cara ini (penyembelihan Islami). Dan dalam hitungan detik setelah pemotongan hewan tidak menunjukkan gerakan apapun. Dan terkadang terjadi kejang-kejang selama beberapa menit setelah itu berheni. Dan penafsiran dari fakta-fakta ini jelas. Yaitu ketika sempurna proses pemotongan dengan pisau yang tajam dan tenaga pemotong (jagal) yang profesional, secara langsung terjadi pendarahan parah yang menyebabkan penurunan tekanan darah. Lalu hewan tersebut memasuki fase koma dan hilangnya kesadaran.


Sesungguhnya gerakan-gerakan yang muncul pada hewan (yang disembelih) dimulai setelah 90 detik dari pemotongan dan akan berlangsung selama 90 detik, adalah gerakan kejang alami yang ditimbulkan oleh terputusnya aliran darah dan kurangnya oksigen ke otak, yang hal itu memasukan hewan tersebut pada keadaan koma dan tidak merasakan sakit, dan hal itu (kejang) membantu proses pembersihan darah (dari dalam tubuh hewan sembelihan).


Sesungguhnya pemeriksaan yang kritis dan teliti pada cara penyembelihan ini, membuat aku -tanpa sedikit pun keraguan dan dengan yakin- bahwa cara tersebut (penyembelihan Islami) adalah cara yang paling sedikit resikonya dan paling sedikit menimbulkan rasa sakit (pada hewan sembelihan) dibandingkan dengan metode pembunuhan lain yang pernah dipraktekkan di masa sekarang ini."

Statemen (Pernyataan) dokter bedah Sir C.A Lovatt Evans, D.Sc. F.R.S. (Profesor Emeritus Fisiologi, Universitas London):

(Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi tiap organ-organ tubuh, fungsi setiap bagian yang membentuk suatu organ, serta hubungan fungsional antar organ tubuh tersebut, agar terjadi suatu sistem yang komprehensif sehingga dapat menghidupi suatu individu secara normal)
Dia berkata:
"Pendapat saya sebagai seorang ilmuwan dan fisiologi, adalah bahwasanya wajib bagi saya untuk meyakini bahwa cara ini (penyembelihan) adalah cara paling manusiawi dibandingkan cara lain yang dipakai atau dikembangkan untuk tujuan ini (mematikan hewan). Dan alasan keyakinanku ini, yang berkaitan dengan cara ini, bahwasanya ia menghilangkan rasa sakit, adalah didasarkan pada dua poin:1. Perasaan secara umum 2. Pengetahuan terhadap ilmu fisiologi.


Perasaan secara umum mengatakan kepadaku, bahwa jika hewan ini menderita, pasti ia akan menendang seketika saat terjadi pemotongan, namun siapa yang mengikuti dan menyaksikan penyembelihan ini ia akan mengetahui dengan pasti tidak adanya penderitaan tersebut. Beberapa saat setelah pemotongan pembuluh-pembuluh darah, hewan benar-benar merasa rileks dan hanya berselang beberapa menit hingga akhirnya gerakan kejangnya menjadi tenang dan akhirnya berhenti.

Dan kita mengetahui bahwa hilangnya kesadaran terjadi dengan saat pemotongan pertama. Dan berdasarkan pada prinsip-prinsip fisiologis sekali lagi, maka merupakan hal yang jelas bahwa dengan terpotongnya pembuluh darah utama di leher dan memancarnya darah, maka terjadi penurunan tajam pada tekanan darah yang menaglir ke otak. Sebagaimana juga hilang tekanan darah pada pembuluh darah lain yang menuju otak secara bertahap. Maka keduanya menimbulkan koma seketika itu juga pada hewan yang disembelih. Dan merupakan hal yang tidak masuk akal adalah meyakini bahwa hewan tersebut (yang disembelih dengan cara Islami) merasa sakit. Dan dari sini, maka tidak ada cara (untuk membunuh hewan) yang setara (sebanding) dengan metode ini (penyembelihan Islami)."

Bukti Kebenaran Al-Quran

Al-Quran mempunyai sekian banyak fungsi. Di antaranya adalah menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad saw. Bukti kebenaran tersebut dikemukakan dalam tantangan yang sifatnya bertahap. Pertama, menantang siapa pun yang meragukannya untuk menyusun semacam Al-Quran secara keseluruhan (baca QS 52:34). Kedua, menantang mereka untuk menyusun sepuluh surah semacam Al-Quran (baca QS 11:13). Seluruh Al-Quran berisikan 114 surah. Ketiga, menantang mereka untuk menyusun satu surah saja semacam Al-Quran (baca QS 10:38). Keempat, menantang mereka untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang sama dengan satu surah dari Al-Quran (baca QS 2:23).
Dalam hal ini, Al-Quran menegaskan: Katakanlah (hai Muhammad) sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (QS 17 :88).
Seorang ahli berkomentar bahwa tantangan yang sedemikian lantang ini tidak dapat dikemukakan oleh seseorang kecuali jika ia memiliki satu dari dua sifat: gila atau sangat yakin. Muhammad saw. sangat yakin akan wahyu-wahyu Tuhan, karena "Wahyu adalah informasi yang diyakini dengan sebenarnya bersumber dari Tuhan."
Walaupun Al-Quran menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad, tapi fungsi utamanya adalah menjadi "petunjuk untuk seluruh umat manusia." Petunjuk yang dimaksud adalah petunjuk agama, atau yang biasa juga disebut sebagai syari'at. Syari'at, dari segi pengertian kebahasaan, berarti ' jalan menuju sumber air." Jasmani manusia, bahkan seluruh makhluk hidup, membutuhkan air, demi kelangsungan hidupnya. Ruhaninya pun membutuhkan "air kehidupan." Di sini, syari'at mengantarkan seseorang menuju air kehidupan itu.
Dalam syari'at ditemukan sekian banyak rambu-rambu jalan: ada yang berwarna merah, yang berarti larangan; ada pula yang berwarna kuning, yang memerlukan kehati-hatian; dan ada yang hijau warnanya, yang melambangkan kebolehan melanjutkan perjalanan. Ini semua, persis sama dengan lampu-lampu lalulintas. Lampu merah tidak memperlambat seseorang sampai ke tujuan. Bahkan ia merupakan salah satu faktor utama yang memelihara pejalan dari mara bahaya. Demikian juga halnya dengan "lampu-lampu merah" atau larangan-larangan agama.
Kita sangat membutuhkan peraturan-peraturan lalulintas demi memelihara keselamatan kita. Demikian juga dengan peraturan lalulintas menuju kehidupan yang lebih jauh, kehidupan sesudah mati. Di sini, siapakah yang seharusnya membuat peraturan-peraturan menuju perjalanan yang sangat jauh itu?
Manusia memiliki kelemahan-kelemahan. Antara lain, ia seringkali bersifat egoistis. Disamping itu, pengetahuannya sangat terbatas. Lantaran itu, jika ia yang diserahi menyusun peraturan lalulintas menuju kehidupan sesudah mati, maka diduga keras bahwa ia, di samping hanya akan menguntungkan dirinya sendiri, juga akan sangat terbatas bahkan keliru, karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelah kematian.
Jika demikian, yang harus menyusunnya adalah "Sesuatu" yang tidak bersifat egoistis, yang tidak mempunyai sedikit kepentingan pun, sekaligus memiliki pengetahuan yang Mahaluas. "Sesuatu" itu adalah Tuhan Yang Mahaesa, dan peraturan yang dibuatnya itu dinamai "agama".
Sayang bahwa tidak semua manusia dapat berhubungan langsung secara jelas dengan Tuhan, guna memperoleh informasi-Nya. Karena itu, Tuhan memilih orang-orang tertentu, yang memiliki kesucian jiwa dan kecerdasan pikiran untuk menyampaikan informasi tersebut kepada mereka. Mereka yang terpilih itu dinamai Nabi atau Rasul.
Karena sifat egoistis manusia, maka ia tidak mempercayai informasi-informasi Tuhan yang disampaikan oleh para Nabi itu. Mereka bahkan tidak percaya bahwa manusia-manusia terpilih itu adalah Nabi-nabi yang mendapat tugas khusus dari Tuhan.
Untuk meyakinkan manusia, para Nabi atau Rasul diberi bukti-bukti yang pasti dan terjangkau. Bukti-bukti tersebut merupakan hal-hal tertentu yang tidak mungkin dapat mereka --sebagai manusia biasa (bukan pilihan Tuhan)-- lakukan. Bukti-bukti tersebut dalam bahasa agama dinamai "mukjizat".
Para Nabi atau Rasul terdahulu memiliki mukjizat-mukjizat yang bersifat temporal, lokal, dan material. Ini disebabkan karena misi mereka terbatas pada daerah tertentu dan waktu tertentu. Ini jelas berbeda dengan misi Nabi Muhammad saw. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia, di mana dan kapan pun hingga akhir zaman.
Pengutusan ini juga memerlukan mukjizat. Dan karena sifat pengutusan itu, maka bukti kebenaran beliau juga tidak mungkin bersifat lokal, temporal, dan material. Bukti itu harus bersifat universal, kekal, dapat dipikirkan dan dibuktikan kebenarannya oleh akal manusia. Di sinilah terletak fungsi Al-Quran sebagai mukjizat.
Paling tidak ada tiga aspek dalam Al-Quran yang dapat menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad saw., sekaligus menjadi bukti bahwa seluruh informasi atau petunjuk yang disampaikannya adalah benar bersumber dari Allah SWT.
Ketiga aspek tersebut akan lebih meyakinkan lagi, bila diketahui bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang yang pandai membaca dan menulis. Ia juga tidak hidup dan bermukim di tengah-tengah masyarakat yang relatif telah mengenal peradaban, seperti Mesir, Persia atau Romawi. Beliau dibesarkan dan hidup di tengah-tengah kaum yang oleh beliau sendiri dilukiskan sebagai "Kami adalah masyarakat yang tidak pandai menulis dan berhitung." Inilah sebabnya, konon, sehingga angka yang tertinggi yang mereka ketahui adalah tujuh. Inilah latar belakang, mengapa mereka mengartikan "tujuh langit" sebagai "banyak langit." Al-Quran juga menyatakan bahwa seandainya Muhammad dapat membaca atau menulis pastilah akan ada yang meragukan kenabian beliau (baca QS 29:48).
Ketiga aspek yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut. Pertama, aspek keindahan dan ketelitian redaksi-redaksinya. Tidak mudah untuk menguraikan hal ini, khususnya bagi kita yang tidak memahami dan memiliki "rasa bahasa" Arab --karena keindahan diperoleh melalui "perasaan", bukan melalui nalar. Namun demikian, ada satu atau dua hal menyangkut redaksi Al-Quran yang dapat membantu pemahaman aspek pertama ini.
Seperti diketahui, seringkali Al-Quran "turun" secara spontan, guna menjawab pertanyaan atau mengomentari peristiwa. Misalnya pertanyaan orang Yahudi tentang hakikat ruh. Pertanyaan ini dijawab secara langsung, dan tentunya spontanitas tersebut tidak memberi peluang untuk berpikir dan menyusun jawaban dengan redaksi yang indah apalagi teliti. Namun demikian, setelah Al-Quran rampung diturunkan dan kemudian dilakukan analisis serta perhitungan tentang redaksi-redaksinya, ditemukanlah hal-hal yang sangat menakjubkan. Ditemukan adanya keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakannya, seperti keserasian jumlah dua kata yang bertolak belakang.
Abdurrazaq Nawfal, dalam Al-Ijaz Al-Adabiy li Al-Qur'an Al-Karim yang terdiri dari tiga jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan tersebut, yang dapat kita simpulkan secara sangat singkat sebagai berikut.
A. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Beberapa contoh, di antaranya:
  • Al-hayah (hidup) dan al-mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali;
  • Al-naf' (manfaat) dan al-madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali;
  • Al-har (panas) dan al-bard (dingin), masing-masing 4 kali;
  • Al-shalihat (kebajikan) dan al-sayyi'at (keburukan), masing-masing 167 kali;
  • Al-Thumaninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq (kesempitan/kekesalan), masing-masing 13 kali;
  • Al-rahbah (cemas/takut) dan al-raghbah (harap/ingin), masing-masing 8 kali;
  • Al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk definite, masing-masing 17 kali;
  • Kufr (kekufuran) dan iman (iman) dalam bentuk indifinite, masing-masing 8 kali;
  • Al-shayf (musim panas) dan al-syita' (musim dingin), masing-masing 1 kali.
B. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya.
  • Al-harts dan al-zira'ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali;
  • Al-'ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing 27 kali;
  • Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati [jiwanya]), masing-masing 17 kali;
  • Al-Qur'an, al-wahyu dan Al-Islam (Al-Quran, wahyu dan Islam), masing-masing 70 kali;
  • Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing 49 kali;
  • Al-jahr dan al-'alaniyah (nyata), masing-masing 16 kali.
C. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.
  • Al-infaq (infak) dengan al-ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali;
  • Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali;
  • Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahraq (neraka/ pembakaran), masing-masing 154 kali;
  • Al-zakah (zakat/penyucian) dengan al-barakat (kebajikan yang banyak), masing-masing 32 kali;
  • Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghadhb (murka), masing-masing 26 kali.
D. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.
  • Al-israf (pemborosan) dengan al-sur'ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali;
  • Al-maw'izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah), masing-masing 25 kali;
  • Al-asra (tawanan) dengan al-harb (perang), masing-masing 6 kali;
  • Al-salam (kedamaian) dengan al-thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali.
E. Di samping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus.
(1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata yang berarti "bulan" (syahr) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun. (2) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada "tujuh." Penjelasan ini diulanginya sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah 29, Al-Isra' 44, Al-Mu'minun 86, Fushshilat 12, Al-Thalaq 12, Al-Mulk 3, dan Nuh 15. Selain itu, penjelasannya tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat.
(3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.
Demikianlah sebagian dari hasil penelitian yang kita rangkum dan kelompokkan ke dalam bentuk seperti terlihat di atas.
Kedua adalah pemberitaan-pemberitaan gaibnya. Fir'aun, yang mengejar-ngejar Nabi Musa., diceritakan dalam surah Yunus. Pada ayat 92 surah itu, ditegaskan bahwa "Badan Fir'aun tersebut akan diselamatkan Tuhan untuk menjadi pelajaran generasi berikut." Tidak seorang pun mengetahui hal tersebut, karena hal itu telah terjadi sekitar 1200 tahun S.M. Nanti, pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1896, ahli purbakala Loret menemukan di Lembah Raja-raja Luxor Mesir, satu mumi, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir'aun yang bernama Maniptah dan yang pernah mengejar Nabi Musa a.s. Selain itu, pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut-pembalut Fir'aun tersebut. Apa yang ditemukannya adalah satu jasad utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Quran melalui Nabi yang ummiy (tak pandai membaca dan menulis itu). Mungkinkah ini?
Setiap orang yang pernah berkunjung ke Museum Kairo, akan dapat melihat Fir'aun tersebut. Terlalu banyak ragam serta peristiwa gaib yang telah diungkapkan Al-Quran dan yang tidak mungkin dikemukakan dalam kesempatan yang terbatas ini.
Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya. Banyak sekah isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al-Quran. Misalnya diisyaratkannya bahwa "Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedang cahaya bulan adalah pantulan (dari cahaya matahari)" (perhatikan QS 10:5); atau bahwa jenis kelamin anak adalah hasil sperma pria, sedang wanita sekadar mengandung karena mereka hanya bagaikan "ladang" (QS 2:223); dan masih banyak lagi lainnya yang kesemuanya belum diketahui manusia kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini. Dari manakah Muhammad mengetahuinya kalau bukan dari Dia, Allah Yang Maha Mengetahui!
Kesemua aspek tersebut tidak dimaksudkan kecuali menjadi bukti bahwa petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh Al-Quran adalah benar, sehingga dengan demikian manusia yakin serta secara tulus mengamalkan petunjuk-petunjuknya.

Senin, 12 Maret 2012

Keringat obat mata

Keringat sebagai unsur obat tetes mata, penemuan berdasarkan Al-Qur'an




Seorang ilmuan Mesir bernama Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad Asyyid, seorang anggota Pusat Lembaga Riset Nasional Mesir, berhasil menciptakan obat tetes mata untuk mengobati penyakit katarak. Ia pun telah berhasil mendapatkan hak paten internasional atas penemuannya tersebut. Pembuatan obat tetes mata ini diilhami dari teks-teks Al-Our’an dalam surat Yusuf.

Kisah mengenai konspirasi saudara-saudara Nabi Yusuf as serta kebutaan yang menimpa ayahnya Nabi Yakub as, akibat kehilangan anaknya ini telah mengilhami Muhammad Sayyid dalam penemuan tersebut. Dalam surat Yusuf dijelaskan bahwa Allah SWT dengan rahmat-Nya memberi baju penyembuh bagi Nabi Yakub as untuk diletakkan di wajahnya. Baju itu adalah milik anaknya sendiri dan hal ini telah membuat penglihatannya pulih kembali.

Selain hendak menunjukkan kekuasaan Allah SWT melalui kisah tersebut. Muhammad Sayyid merasa bahwa ada suatu dimensi material dari sekadar dimensi spritual yang terkandung disana. Karena itu, dengan berbagai riset, ia mencoba membuktikan anggapan tersebut. Atas izin Allah SWT, Muhammad Sayyid berhasil membuktikannya.

PENYAKIT KATARAK



Katarak merupakan kerusakan yang terjadi pada lensa mata. Kerusakan ini menyebabkan lensa mata menjadi keruh sehingga tidak dapat menerima cahaya, baik sebagian maupun keseluruhan sesuai tingkat keburaman yang dialami. Ketika keburaman ini mencapai titik kelimat, pandangan mata menjadi lemah. Jika dibiarkan, hal ini dapat menyebabkan seseorang tidak mampu lagi membedakan segala sesuatu yang dilihatnya atau bahkan kebutaan.

Penyebab katarak bermacam-macam. Salah satunya adalah benturan atau pukulan langsung pada lensa mata. Pukulan pada lensa mata ini dapat menyebabkan perubahan susunan dan keserasian protein lensa mata. Selain itu, perubahan protein ini juga dapat terjadi pada mata yang sering terkena panas atau berbagai macam sinar yang menyilaukan. Karena itu, profesi tertentu, seperti koki, pekerja las, atau pekerja di depan pembakaran yang sering berhadapan dengan panas, rentan penyakit katarak. Faktor usia, bawaan oleh seorang anak, dan beberapa penyakit seperti diabetes, juga dapat mengakibatkan katarak.




Selain berbagai penyakit tersebut, terjadinya katarak juga ada hubungannya dengan kesedihan dalam diri seseorang. Hal ini didasarkan pada kisah terjadinya kebutaan pada kedua mata Nabi Yakub as akibat kesediahan yang mendalam ditinggalkan anaknya, Nabi Yusuf as. Mengenai hal ini Muhammad Sayyid memberikan keterangan.

Kesedihan yang mendalam, apalagi disertai tangisan, dapat menyebabkan bertambahnya hormon adrenalin dalam tubuh. Hormon adrenalin yang bertambah terus menerus dapat menyebabkan bertambahnya pula zat gula dalam darah. Zat gula ini merupakan salah satu faktor penyebab katarak. Selain kesedihan, kegembiraan yang berlebihan juga dapat mengaruhi hal ini.

PENGOBATAN KATARAK

Gejala katarak ditandai dengan berkabutnya pandangan mata. Hingga saat ini, pengobatan katarak masih berupa operasi, yaitu dengan mengeluarkan lensa mata yang buram dan mengantinya dengan menambah lensa yang baru di kapsul mata. Secara modern, penangkatan lensa yang buram ini dilakukan dengan jalan menyedotnya keluar.

Pada beberapa percobaan ilmiah, telah didapatkan hasil usaha pengembalian protein putih telur yang mengalami pengentalan ke kondisi semula melalui rekasi kimia. Akan tetapi, usaha pengembalian protein melalui reaksi kimia ini tidak berlaku bagi protein lensa mata. Karena itu, usaha yang diperlukan selanjutnya adalah pengembalian protein lensa mata melalui reaksi fisika. Hal ini bertujuan agar protein lensa mata dapat kembali menjalankan fungsinya dengan seimbang tanpa perlu melakukan operasi penggantian lensa mata.

Berdasarkan hal tersebut. Muhammad Sayyid, melalui kandungan surat Yusuf, mulai melakukan penelitian guna mencari tahu cara menyembuhkan katarak tanpa harus dioperasi. Petunjuk awal didapatkannya dari firman Allah SWT.
“Pergilah kamu dengan membawa bajuku ini, lalu usapkanlah ke wajah ayahku, nanti dia akan melihat kembali: dan bawalah seluruh keluargamu kepadaku. Dan ketika kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir), ayah mereka berkata. ‘Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu akan membenarkan aku): Mereka (keluarganya) berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya engkau masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.’ Maka ketika telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diusapkannya (baju itu) kewajahnya (Yakub), lalu dia dapat melihat kembali. Dia (Yakub) berkata, ‘Bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Yusuf [12]: 93-96).

Muhammad Sayyid dan rekannya mulai melakukan riset. Didapatlah kemudian bahwa satu-satunya unsur yang terdapat pada baju Nabi Yusuf as adalah keringat. Karena itu, riset diteruskan dengan meneliti komponen yang terkandung dalam keringat manusia.

Percobaan pertama adalah merendam lensa mata yang buram ke dalam keringat. Setelah beberapa lama, lensa mata yang buram tersebut secara berangsur mulai menunjukkan perubahan warna menjadi transparan. Hal ini membuktikan bahwa keringat mengandung komponen yang bermanfaat untuk mengobati katarak. Salah satu komponen yang bermanfaat itu adalah sebuah turunan urea.

Tidak ada efek samping dalam penggunaan komponen keringat ini sebagai bahan dasar obat tetes mata, meskipun keringat merupakan kumpulan materi yang berasal dari pembuangan tubuh. Hal ini karena komponen yang digunakan merupakan turunan urea.

Untuk membuktikan hal tersebut, telah dilakukan percobaan terhadap beberapa binatang, yaitu dengan memberikan komponen keringat ini sebanyak sepuluh kali lipat. Pemberian terjadi melalui mulut dan injeksi pada sekitar selaput protein jantung. Hasilnya, terbukti tidak terjadi efek samping. Percobaan tersebut tidak berpengaruh apa pun pada fungsi hati, kedua ginjal, otak, maupun darah.
Percobaan juga telah dilakukan pada 250 sukarelawan penderita katarak. Hasilnya, pengobatan dengan obat tetes mata yang berbahan dasar salah satu komponen keringat ini mampu mengembalikan lebih dari 90% penglihatan sukarelawan tersebut.

Lain halnya dengan para penderita katarak yang lebih memilih penyembuhan lewat jalan operasi, mereka banyak terkena efek samping penyembuhan tersebut. Lensa mata mereka memang kembali transparan, tetapi timbul kemudian penyakit pada retina mata mereka.

Bagi Muhammad Sayyid, penemuan obat tetes mata ini merupakan salah satu bentuk “zakat” pengetahuan yang telah ia berikan kepada sesama manusia. Hal ini merupakan bukti keagungan dan keluhuran Al-Qur'an sebagaimana firman Allah SWT :

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang alim (Al-Qur'an itu) hanya akan menambah kerugian” (QS. Al-Isra' : 82)

Satu hal lagi yang ditekankan di sini bahwa produsen obat tetes ini harus mencantumkan keterangan yang menjelaskan bahwa obat tersebut berasal dari Al-Qur'an. Hal ini penting agar seluruh penduduk dunia tahu kebenaran Al-Qur'an. Sebagai petunjuk kehidupan, Al-Qur'an berperan aktif dalam memberi kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Minggu, 04 Maret 2012


Sungai di Dasar Laut

Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut
Sungai Dasar Laut Sungai di Dasar Laut
“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. ” (QS Fushshilat : 53)
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
 Sungai di Dasar Laut
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barz`khun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.
 Sungai di Dasar Laut
Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak
ditemukan mutiara.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam
akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.
Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut
26908 1312872896266 1063954137 30920409 7579604 n Sungai di Dasar Laut
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.
 Sungai di Dasar Laut
Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak
ditemukan mutiara.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam
akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannyamutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.
Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”
Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.
Setengah pengkaji mengatakan, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, nampak seperti sungai… luar biasa bukan? Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah SWT.

Beberapa bukti kebenaran al-Qur'an sebagai wahyu Allah

A. Kisah Fir'aun & Nabi Musa as


Dalam Surah Yunus ayat 90-92, Al-Qur'an menyatakan bahwa pada suatu masa nanti bangkai Fir'aun yang tenggelam sewaktu mengejar Nabi Musa as akan dikembalikan kepada manusia (dapat disaksikan dengan mata kepala) untuk menjadi bukti akan kebenaran dan kebesaran ayat-ayat Allah itu.


"Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami."
(QS. 10:90-92)


Perlu diketahui, bahwa ayat ini turun setelah 21 abad masa Fir'aun.
Orang sudah tidak tahu lagi dimana batang tubuh Fir'aun.
Tetapi sungguh menakjubkan, bahwa setelah terpendam selama lebih kurang 40 abad, yaitu tepatnya tanggal 6 Juli 1879 para ilmuwan Archeologi telah berhasil menemukan batang tubuh Fir'aun, dan hal ini sekaligus menemukan bukti akan kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu Allah, bukan ciptaan Nabi Muhammad Saw !


Berikut akan saya kutipkan tulisan Yoesof Sou'yb dalam majalah 'Harmonis' tentang kesesuaian antara Surah Yunus 90-92 dengan kenyataan sejarah yang menggemparkan itu.


Wahyu Ilahi yang diturunkan pada abda ke-7 Masehi itu menegaskan bahwa badan Pharaoh/Fir'aun yang telah menjadi korban, akan diselamatkan sebagai pertanda bagi orang belakangan.
Dalam ayat asli berbunyi : 'nunajji-ka bi badani-ka'.


Sedangkan The Holy Bible tidak bercerita bahwa badan Fir'aun/Pharaoh itu diselamatkan untuk pertanda bagi orang belakangan, pada Exodus 14:29-30 hanya diceritakan mengenai sbb :
"But the children of Israel walked upon dry land in the midst orf the sea; and the waters were a wall into them on their right hand and on the lef. Thus the Loard saved Israel that day cut of the hand of the Egyptians; and Israeli saw the Egyptians dead upon the sea shore"


'Tetapi segala Bani Israel itu telah berjalan diatas kekeringan tanah ditengah-tengah laut, maka karir nya menjadi dewala (dinding tembok) bagi mereka pada sebelah kanan-kirinya, demikianlah dilepaskan Tuhan segala orang Israel pada hari itu juga dari tangan orang Mesir, maka dilihat orang Israel segala orang Mesir itu mati terhantar dipantai laut.'


The Holy Bible hanya menceritakan tentang kematian anak-anak Israel (Pharaoh beserta pasukannya), tetapi tidak bercerita bahwa tubuh Pharaoh/Fir'aun diselamatkan untuk pertanda dan pelajaran bagi orang-orang sesudah mereka.


Sekarang mari kita sedikit menyinggung pada saat Nabi Saw menceritakan wahyu Allah ini.
Penduduk Mekkah semenjak masa yang panjang sebelum Nabi Muhammad Saw telah menciptakan tradisi dagang.


Pada musim panas (al-shaif) kafilah-kafilah dagang berangkat ke Utara (Mesir, Palestina, Syria, Irak, Iran) dan pada musim dingin (al-syitak) kafilah-kafilah dagang bergerak keselatan (Yaman, Ethiopia).


Jadi penduduk Mekkah pada masa Nabi Muhammad Saw itu sudah tidak merasa asing terhadap keadaan di Mesir pada masa itu. Piramid-piramid raksasa, kuil-kuil raksasa, tiang-tiang obleisk dan Spinx, semua itu cuma saksi bisu yang tiada bisa bercerita apapun kepada manusia, apalagi akan menjumpai dan menyaksikan batang tubuh Pharaoh masa itu.


Coba anda merenung sejenak dalam imajinasi anda, betapa sambutan penduduk Mekkah terhadap pemberitaan Nabi besar Muhammad Saw bahwa jenasah Fir'aun diselamatkan oleh Tuhan sebagai pertanda bagi orang-orang belakangan !


Dalam abad ke-19 dengan kunci batu-Rosetta, yang pada akhirnya berheasil diterjemahkan huruf-huruf Demotik dan Hiroglipik pada batu-Rosetta itu oleh Jean Francois Champollion (1790-1832 M), maka coretan-coretan cakar ayam pada dinding-dinding Pyramid, dinding-dinding kuil dan tiang-tiang obelisk, mulai bercerita tentang masa silam.


Jika menjelang abad ke-19 pengetahuan manusia tentang sejarah cuma sampai abad ke-4 sebelum Masehi, maka sejak abad ke-19 pengetahuan sejarah telah menjangkau masa tiga puluh abad sebelum masehi.


Tetapi jasad Pharaoh dari setiap dinasti, yang dikisahkan sedemikian rupa oleh tiang-tiang obelisk dan dinding-dinding piramid belum juga dijumpai.


Expedisi berbagai bangsa bagaikan kena rangsang untuk mengerahkan kegiatan dan pembiayaan untuk menemukannya. Pada tanggal 6 Juli 1879 terjadilah apa yang dipandang 'peristiwa terbesar' bagi dunia sejarah. The Historian's History of The World vol.1 edisi 1926, dalam puluhan halamannya melukiskan peristiwa terbesar itu dengan sangat indahnya dan panjang lebar.


Ir. Muhammad Ahmad Abdar-Rasul, seorang Arkeolog Mesir yang mengabdikan hidupnya untuk melakukan riset tanpa jemu-jemunya, telah berhasil pada akhirnya memberikan petunjuk kepada ekspedisi ilmiah Jerman - Mesir yang berada dibawah pimpinan Messrs, Emil Brugsch dan Ahmad Effendi Kamal itu, yaitu sebuah lubang kecil yang terletak tinggi pada dinding batu karang di 'lembah raja-raja' (Valley of Kings) dalam wilayah Mesir atas.


Dengan peralatan dan tenaga manusia yang dipersiapkan sedemikian rupa pada tanggal 6 Juli 1879 dilakukan penerobosan kedalam relung sempit yang berceruk-ceruk dan berliku-liku itu, dan pada suatu ruangan besar yang terletak jauh disebelah dalam dijumpailah sekian puluh mummi dari para Pharaoh, termasuk mummi Rhamses II (Fir'aun) yang hidup pada masa Nabi Musa as, yaitu Pharaoh terbesar dan teragung dalam sejarah dinasti-dinasti Pharaoh ditanah Mesir.


Buku sejarah terbesar yang puluhan jilid tebalnya terbitan 'Encyclopedia Britannica Inc' menyimpulkan penemuan terbesar itu pada halaman 155 dengan kalimat :


'Nothing is modern discovery has more vividly and suddenly brought the ancient world home to the world of today than the finding of the actual bodies, the very flesh and blood of the Pharaos marvellously preserved to us by the embalmers's venerable art. The discovery has bredged the chasm between the ancient and the new as a midnight flash of lighting from the clouds to the earth.'


Tiada suatuoun didalam penemuan baru yang lebih menggemparkan dan mendadak membawa dunia kuno kepada dunia sekarang ini daripada penemuan jenasah yang sesungguhnya dari pharaoh-pharaoh dalam bentuk daging dan darah, yang dipersiapkan untuk kita secara menakjubkan sekali oleh kepintaran luar biasa dari ahli rempah-rempah yang membalutnya.
Penemuan itu telah menutup jurang antara masa purba dengan masa baru bagai pancaran kilat malam hari dari balik mendung keatas bumi.


Buku sejarah yang terpandang karya terbesar dunia itu telah memperdengarkan sambutan demikian hangat dan kagum akan penemuan itu, yang berarti secara sadar atau tidak telah menyambut demikian hangat dan kagum akan kebenaran sebuah wahyu Ilahi dalam Al-Qur'an.


B. Kisah Romawi


Pernyataan tentang kekalahan pasukan Romawi oleh pasukan Persia yang terdapat dalam permulaan Surah Ar-Rum.


Pada tahun 325, raja Konstantin memeluk agama Kristen, dan menjadikan agama ini sebagai agama negara yang resmi (Awal dari terbentuknya konsili Nicea yang mengesahkan Trinitas). Secara spontan, rakyat Romawipunbanyak yang memeluk agama tersebut, sementara itu kekaisaran Persia, penyembah matahari, menolak untuk memeluk agama tersebut.


Adapun raja yang memegang tampuk kekaisaran Romawi pada akhir abad ke-7 M adalah Maurice, seorang raja yang kurang memperhatikan masalah kenegaraan dan politik. Oleh karenanya angkatan bersenjatanya pun kemudian mengadakan kudeta dibawah pimpinan panglimanya yang bernama Pochas.


Setelah mengadakan kudeta, Pochas naik tahta dan menghukum keluarga raja dengan cara yang kejam. Serta mengirim seorang duta ke Persia, yang pada waktu itu dipegang oleh Kisra Chorus II, putra Kisra Anu Syirwan yang adil.


Pada waktu Kisra tahu kejadian kudeta di Romawi, Kisra sangat marah karena Kisra pernah berhutang budi pada Maurice yang sekaligus juga mertuanya itu. Kemudian Kisra memerintahkan untuk memenjarakan duta besar Romawi, serta menyatakan tidak mengakui pemerintahan Romawi yang baru.


Akhirnya Kisra Chorus melancarkan peperangan terhadap Romawi.
Angkatan perangnya merayap melintasi sungai Euphrat menuju Syam.
Dalam serangan ini Pochas tidak dapat mempertahankan diri terhadap angkatan perang Persia yang telah menguasai kota Antiochia dan El Quds.


Sementara itu penguasa Romawi didaerah jajahan Afrika juga mengirimkan pasukan besar dibawah pimpinan puteranya, yaitu Heraklius. Bertolaklah pasukan tersebut dengan diam-diam melalui jalan laut, sehingga Pochas tidak tahu kedatangan mereka. Tanpa menghadapi perlawanan sama sekali, Heraklius akhirnya berhasil menguasai kekaisaran dan membunuh Pochas.


Walaupun Heraklius berhasil menguasai kekaisaran dan membunuh Pochas, namun Heraklius tidak berhasil menahan badai pasukan Persia. Sehingga Romawi kehilangan daerah jajahannya dan tinggallah kekaisaran Romawi di ibukota saja. Penduduk yang tinggal di ibukota penuh diliputi rasa kekhawatiran akan serangan pasukan Persia yang akan memasuki ibukota.


Setelah berlangsung peperangan selama enam tahun, kaisar Persia mau mengadakan perdamaian dengan Heraklius tetapi dengan satu syarat, Heraklius harus menyerahkan seribu talent emas, seribu talent perak, seribu pakaian dari sutera, seribu kuda dan seribu gadis perawan kepada Kisra.


Sementara pada ibukota Persia dan Romawi terjadi peristiwa tersebut, maka pada bangsa dipusat ibukota Jazirah Arabia, yaitu di Mekkah Almukarromah, terjadi pula hal yang serupa. Dikota tersebut terdapat orang-orang Majusi Persia, penyembah matahari dan api, dan orang-orang Romawi yang beriman kepada ajaran Isa (walau sudah diselewengkan).


Orang Islam dan orang-orang Romawi mengharapkan kemenangan mereka atas orang-orang kafir dan musyrikin, sebagaimana halnya mereka mengharapkan kekalahan orang-orang kafir Mekkah dan orang Persia, sebab mereka merupakan penyembah benda-benda materi. Sementara orang-orang Nasrani, meskipun sebagian dari mereka sudah menyimpang dari ajaran Isa Putra Maryam adalah merupakan saudara dan sahabat terdekat kaum Muslimin.


"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata:"Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rabib-rabib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri."
(QS. 5:82)


Dengan demikian, pertarungan yang terjadi antara orang-orang Persia dan Romawi menjadi lambang luar pertarungan antara orang-orang Islam dan musuh-musuhnya di Mekkah. Maka pada waktu Persia berhasil mengalahkan orang-orang Romawi pada tahun 616 dan berhasil menguasai seluruh wilayah sebelah Timur negara Romawi, orang-orang Musyrikin pun mendapat kesempatan untuk menghina kaum Muslimin dengan mengatakan : 'Saudara kami berhasil mengalahkan saudara kamu. Demikian pula yang akan kami lakukan kepadamu jika kamu tidak mau mengikuti kami, meninggalkan agama kamu yang baru (Islam).'


Dalam keadaan yang menyakitkan itu, kaum Muslimin Mekkah sedang dalam kondisi yang paling lemah dan buruk dalam segi materi, sampai kemudian turun wahyu Allah kepada Nabi Besar Muhammad Saw :


"Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
(QS. 30:1-6)


Sungguh turunnya wahyu ini kepada Nabi Saw merupakan suatu ujian mental dan Spiritual bagi semua sahabat-sahabat beliau. Jika apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw ini tidak terbukti, maka sudah bisa diramalkan akan kehancuran kepercayaan mereka terhadap diri orang yang selama ini mereka percayai dan mereka kasihi.


Beberapa tahun kemudian, Heraklius membuat suatu rencana yang luar biasa untuk mengalahkan Persia. Heraklius tahu bahwa kekuatan angkatan laut Persia sangat lemah, oleh karena itu dia menyiapkan kapal-kapal untuk menyerang Persia dari belakang. Dia bertolak bersama-sama dengan sisa-sisa pasukannya lewat Laut Hitam ke Armenia, dan melakukan serangan kilat terhadap pasukan Persia. Menghadapi serangan mendadak itu, pasukan Persia tidak mampu bertahan dan lari bercerai berai.


Di Asia kecil, Persia memiliki pasukan yang besar.
Tetapi Heraklius menyerangnya dengan tiba-tiba dengan kapal-kapal perangnya, dan berhasil menghancurkan pasukan Persia. Setelah memperoleh kemenangan yang besar itu, kembalilah Heraklius keibukota Konstantinopel lewat jalan laut.


Setelah dua peperangan diatas, Heraklius melakukan peperangan yang lain melawan Persia pada tahun 623, 624 dan 625. Akibat peperangan tersebut, pasukan Persia terpaksa menarik diri dari seluruh tanah Romawi, dan Heraklius berada pada pusat yang memungkinkan baginya untuk menembus kejantung kekaisaran Persia. Akhirnya perang yang terakhir terjadi pada bulan Desember 627 disepanjang sungai Dajlah.


Pada waktu Kisra Chorus tidak dapat menahan arus tentara Romawi, ia melarikan diri dari istananya, tetapi kemudian ditahan oleh puteranya 'Siroes' dan dimasukkan kedalam penjara. Puteranya ini membunuh 18 orang saudara-saudaranya yang lain didepan mata sang ayah, Kisra Chorus. Pada hari kelima, Kisra meninggal dunia dalam penjara.


Selanjutnya Siroes pun terbunuh oleh salah seorang saudara kandungnya sendiri yang masih hidup. Maka mulailah pembunuhan-pembunuhan dilingkungan istana. Dalam masa 4 tahun, sudah 9 raja yang memegang tampuk pemerintahan. Dalam situasi yang demikian buruk ini, jelas Persia tidak mungkin dapat melanjutkan peperangannya melawan kerajaan Romawi.


Maka akhirnya Kavadh II, salah seorang putera kisra Chorus yang masih hidup, meminta damai dan mengusulkan pengunduran diri pasukan Persia dari tanah Romawi. Pada bulan Maret tahun 628 M, Heraklius kembali kekonstantinopel dengan pesta besar-besaran.


Umat Islampun yang mendengar kemenangan saudara-saudaranya para orang-orang Romawi ini melakukan tasbih dan syukur kepada Allah Swt. Semakin mendalamlah keyakinan dan kesetiaan mereka kepada Rasulullah Saw.


Edward Gibbon memperkecil arti ramalan Al-Qur'an dengan menghubungkannya dengan surat yang dikirim oleh Rasulullah Muhammad Saw kepada Kisra Choros II.


Tetapi hal ini terbantahkan dengan melihat waktu turunnya ayat tersebut kepada Nabi Muhammad Saw dan umatnya.
Surat dari Nabi Saw tersebut dikirim pada tahu ke-7 H, setelah perdamaian Hudaibiah, atau pada tahun 628 M.
Sementara Qur'an Surah Ar-Ruum ayat 1-6 yang memuat ramalan tersebut turun pada tahun 616 M, lama sebelum terjadinya Hijrah Nabi dan sahabat-sahabatnya. Jadi antara kedua peristiwa itu terdapat jarak 12 tahun.